Merawat Kebudayaan Nusantara: Refleksi Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara di Hari Kebudayaan Nasional 2026

•

Oleh: Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara (FKN)

Setiap kali saya berdiri di bawah naungan panji-panji Kebhinekaan, menatap bentangan ribuan pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, dada saya selalu bergetar oleh rasa bangga yang tak terhingga. Hari ini, Sabtu, 17 Oktober 2026, bangsa kita kembali merayakan salah satu momen paling krusial dalam perjalanan peradabannya: Hari Kebudayaan Nasional.

Bagi kami di Forum Keberagaman Nusantara (FKN), tanggal 17 Oktober bukan sekadar tanggal di kalender peringatan tahunan. Hari ini adalah ruang jeda, sebuah cermin kebangsaan tempat kita berkaca dan bertanya pada diri sendiri: Sejauh mana kita telah menjaga warisan luhur para leluhur? Seberapa dalam kita telah meletakkan kebudayaan sebagai kompas moral bangsa?

Kebudayaan Adalah Jiwa dan Akar Bangsa

Kebudayaan bukanlah peninggalan masa lalu yang beku di dalam etalase kaca museum. Kebudayaan adalah entitas yang bernapas, bergerak, dan membentuk identitas setiap insan Indonesia. Kebudayaan hidup dalam ayunan langkah para penari di pedalaman, dalam lantunan kidung tradisional di pelosok desa, dalam kehangatan tutur kata antartetangga, hingga dalam keindahan ikatan kain tenun dan batik yang ditenun dengan benang-benang doa.

Di Forum Keberagaman Nusantara, kami memandang bahwa keberagaman budaya dengan ratusan bahasa daerah, tradisi adat, serta seni lokal bukanlah celah perbedaan yang memisahkan, melainkan fondasi kokoh yang menyatukan. Seperti irama gamelan yang terdiri dari benturan instrumen bernada beda, harmoni indah hanya tercipta ketika seluruh elemen itu berbunyi bersama dalam rasa saling menghargai.

Peringatan Hari Kebudayaan Nasional tahun ini membawa tema yang sangat mendalam: “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya.” Pesan ini menegaskan kembali bahwa untuk menjadi bangsa yang berdaya saing global, kita tidak perlu menanggalkan jati diri lokal kita. Justru dari akar kebudayaan yang kuat itulah, pohon peradaban Indonesia akan tumbuh menjulang tinggi menembus zaman.

Merajut Benang Kebhinekaan di Tengah Era Modernisasi

Kita tidak dapat menutup mata bahwa gelombang modernisasi dan digitalisasi bergerak sangat cepat. Generasi muda kita saat ini tumbuh di tengah gempuran budaya global yang tanpa sekat. Namun, saya selalu optimis. Generasi muda Indonesia bukanlah generasi yang lupa pada akarnya.

Yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk menghadirkan kebudayaan dalam bahasa zaman mereka. Kebudayaan tidak boleh terasa asing atau kuno. Seni tradisional, cerita rakyat, hingga kearifan lokal harus mampu beradaptasi melalui media digital, karya kreatif, dan ruang-ruang inovasi baru.

Di sinilah kewajiban kita bersama pemerintah, tokoh masyarakat, budayawan, hingga organisasi kemasyarakatan seperti FKN untuk terus membuka jalan dan memberikan ruang bagi anak-anak muda. Kita ingin melihat pemuda-pemudi kita dengan bangga mengenakan busana Nusantara, fasih menuturkan bahasa daerahnya, serta mengabarkan keindahan tradisi Nusantara ke panggung dunia.

Harapan dan Ajak Kebangsaan Forum Keberagaman Nusantara

Sebagai Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara, pada momen berharga Hari Kebudayaan Nasional 2026 ini, saya ingin menyampaikan beberapa harapan besar bagi masa depan kebudayaan kita:

  1. Penguatan Kebudayaan sebagai Fondasi Pembangunan: Kita berharap pemerintah terus menempatkan kebudayaan tidak hanya sebagai sektor pendamping, tetapi sebagai pilar utama pembentuk karakter dan arah pembangunan nasional. Kebijakan publik yang berakar pada kearifan lokal akan selalu menciptakan tatanan masyarakat yang lebih adil, humanis, dan toleran.
  2. Perlindungan dan Pelestarian Hak-Hak Budaya Masyarakat Adat: Mari kita pastikan bahwa masyarakat adat dan para penjaga tradisi di seluruh pelosok Nusantara mendapatkan ruang hidup, perlindungan, serta penghormatan yang layak. Mereka adalah benteng terdepan yang menjaga kelestarian alam dan budaya Indonesia.
  3. Menjadikan Kebudayaan sebagai Alat Pemersatu Bangsa: Di tengah dinamika sosial dan politik, kebudayaan harus menjadi perajut kedamaian. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan silih asih adalah obat penawar bagi segala bentuk polarisasi.
  4. Sinergi Lintas Generasi dan Elemen Masyarakat: Pelestarian budaya bukanlah tugas segelintir budayawan saja, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Dari meja makan keluarga hingga panggung internasional, marilah kita senantiasa merayakan keberagaman ini.

Baca Juga : Forum Keberagaman Nusantara (FKN): Benteng Toleransi di Tengah Pluralisme

Mari Kita Jaga Warisan Ini Bersama

Negeri ini dirawat dengan keringat, darah, dan doa para pendahulu kita yang berdiri di atas keberagaman. Jangan pernah biarkan nyala api kebudayaan itu redup ditelan zaman.

Jadikan Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober 2026 ini sebagai momentum pengingat bahwa kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia terletak pada kaya dan luhurnya tradisi yang kita miliki. Mari kita rawat warisan ini, kita muliakan kearifannya, dan kita teruskan apinya kepada generasi mendatang.

Selamat Hari Kebudayaan Nasional 2026!

Melestarikan Warisan, Menyalakan Api Nusantara.

Salam keberagaman, Salam Nusantara!

•

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *