Home

Byberagam

Gema Ikrar di Tanah Sumatera: Tonggak Awal Menjaga Keberagaman Nusantara

Sejarah mencatat bahwa peristiwa besar selalu dimulai dari letupan ketulusan di sudut yang hening. Di Kota Medan, tempat bertemunya berbagai denyut kebudayaan Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa, dan India, sebuah gema kebangsaan dikumandangkan dengan penuh khidmat. Pada tanggal 19 Oktober 2023, Ikrar Merajut Keberagaman Nusantara resmi menjadi saksi awal berdirinya simpul persaudaraan yang merangkul seluruh elemen bangsa dari berbagai latar belakang.

Momentum Bersejarah di Bumi Deli dan Perjalanan Kebangsaan

Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin, bersama para tokoh kunci bangsa dalam acara tersebut menegaskan bahwa momentum tersebut bukanlah sekadar hajatan protokoler biasa. Lebih dari itu, terdapat getaran keinsafan yang mendalam di dalam ruangan. Sebuah kesadaran kolektif disadari bersama bahwa persatuan Indonesia bukanlah sesuatu yang berjalan secara otomatis, melainkan memerlukan rawatan yang konsisten serta keberanian nyata dari setiap anak bangsa untuk saling merangkul.

Malam itu, di bawah paparan lampu yang hangat dan di bawah kesaksian para sepuh adat, sebuah janji suci diikrarkan. Kebhinekaan yang hidup dan bernapas di Sumatera Utara kemudian diletakkan sebagai teladan awal. Perbedaan identitas dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan tak terhitung harganya yang harus dilindungi bersama dari percikan konflik disintegrasi bangsa.

“Ketika genta perdamaian dibunyikan di Medan, nyalanya menjangkau sanubari setiap anak bangsa yang merindukan kerukunan sejati.”

Menyatukan Hati Lewat Gerakan Kebudayaan Lintas Generasi

Letupan semangat dari Kota Medan ini kemudian melahirkan visi besar bagi pembentukan gerakan sosial yang lebih terstruktur dan inklusif. Keberagaman budaya, agama, suku, dan etnis di Indonesia menuntut adanya ruang dialog yang terbuka tanpa sekat. Melalui semangat persaudaraan yang dicanangkan sejak hari itu, para tokoh bersepakat bahwa menjaga keutuhan NKRI harus dimulai dari akar rumput dengan melibatkan lintas generasi, mulai dari para tokoh adat, ulama, pemuka agama, hingga generasi muda yang menjadi motor penggerak masa depan bangsa.

Gema dari Tanah Sumatera ini telah membuktikan bahwa kekuatan terbesar Indonesia terletak pada kemampuannya untuk tetap bersatu di tengah perbedaan. Titik tolak di Medan pada Oktober 2023 silam menjadi fondasi kokoh bagi langkah-langkah berikutnya dalam menyalakan api persatuan, merawat warisan leluhur, serta mewujudkan cita-cita besar bangsa menuju Indonesia Emas yang harmonis, toleran, dan berdaya dari sabang sampai merauke.

Byberagam

Sumpah Pemuda adalah Ruh Keberagaman Nusantara

Oleh: Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun
(Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Forum Keberagaman Nusantara / FKN)

Tepat pada detak Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 ini, ketika kita menatap luasnya cakrawala pertiwi dari Sabang sampai Merauke, sebuah pertanyaan fundamental berkelebat di dalam batin kita: Di manakah letak kekuatan terbesar bangsa Indonesia?

Jawabannya bukanlah terletak pada seberapa megah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, atau seberapa masif lompatan teknologi digital yang kita genggam. Kekuatan sejati Indonesia , napas abadi yang menghidupkan republik ini terukir indah dalam rajutan perbedaan. Kita adalah bangsa yang ditenun dari ribuan suku, ratusan bahasa daerah, bermacam keyakinan, serta warna budaya yang membentang luas. Perbedaan bukanlah dinding pemisah, melainkan anugerah agung yang mengikat kita dalam satu rumah besar bernama Indonesia.

Generasi Muda: Pemilik Sah Estafet Generasi Bangsa Menuju Indonesia Emas

Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan historis yang terkunci dalam arsip kuning masa lampau. Ia adalah lonceng kebangkitan yang terus berdering, memanggil kesadaran setiap jiwa muda hari ini baik Generasi Z, Milenial, maupun generasi alpha untuk bersama sama mewujudkan Indonesia emas 2045.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan gempuran individualisme digital yang kerap kali mengaburkan identitas, pemuda Indonesia dituntut untuk memiliki ketahanan batin yang kokoh. Ego golongan, fanatisme sempit, serta prasangka antarsuku harus kita leburkan bersama. Sebab, masa depan bangsa ini tidak akan pernah kokoh jika dibangun di atas fondasi perpecahan.

โ€œMari kita gantikan ego dengan kasih sayang, dan curiga dengan saling percaya. Dari cinta, lahir persatuan yang tak tergoyahkan.โ€

Semangat inilah yang senantiasa disuarakan oleh Forum Keberagaman Nusantara (FKN) dalam setiap langkah perjalanan kebangsaan kita dari tanah Sumatera, bumi Banten, ranah Parahyangan, Kalimantan Raya, keindahan Yogyakarta, hingga tanah Maluku Utara dan daerah daerah lain yang masih kita jejaki. Bahwa merawat keberagaman adalah kerja-kerja cinta yang menuntut ketulusan hati.

Beragam, Bersatu, Berdaya: Manifestasi Nyawa Republik

Menjadi pemuda Indonesia di era modern berarti siap menjadi penjaga nyala api kebangsaan. Tiga kata kunci yang senantiasa didengungkan FKN Beragam, Bersatu, dan Berdaya harus mendarah daging dalam setiap tindakan nyata:

  1. Beragam: Kita merayakan setiap perbedaan suku, ras, dan agama bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai orkestra kehidupan yang harmonis. Perbedaan warna suara justru menciptakan melodi kebangsaan yang indah bagi Indonesia Raya.
  2. Bersatu: Di atas fondasi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kita berdiri tegap sebagai satu saudara sebangsa dan setanah air. Tiada ruang bagi perpecahan di bumi pertiwi tercinta.
  3. Berdaya: Pemuda yang bersatu adalah pemuda yang berdaya. Daya cipta, daya juang, dan daya saing generasi muda harus diarahkan untuk memajukan bangsa, mengentalkan rasa gotong royong, serta menjawab tantangan zaman global dengan optimisme tinggi.

Menyongsong Indonesia Emas: Ketika Jiwa Pemuda Menyala untuk Ibu Pertiwi

Menjelang satu abad perjalanan Republik Indonesia, tantangan global menuntut ketangguhan kolektif kita. Dunia luar melihat Indonesia bukan hanya karena kekayaan alamnya yang melimpah, tetapi karena keajaiban sosial kita: bagaimana ratusan juta jiwa dengan latar belakang yang begitu kontras mampu hidup berdampingan dalam damai, toleransi, dan cinta kasih.

Baca Juga : Merawat Kebudayaan Nusantara: Refleksi Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara di Hari Kebudayaan Nasional 2026

Wahai pemuda-pemudi Indonesia di mana pun kalian berada, tancapkan tekad di dalam dada. Jadilah obor yang menerangi kegelapan, jadilah jembatan yang merajut persaudaraan di tengah perbedaan. Mari kita buktikan bahwa darah pemuda yang mengalir di nadi kita hari ini adalah darah yang sama dengan para pejuang sumpah pemuda tahun 1928 penuh gelora, pantang menyerah, dan hanya berbakti untuk kejayaan Indonesia Raya.

Mari kita terus Menyalakan Hati Nusantara, merawat warisan luhur para leluhur, dan melangkah bersama menuju masa depan Indonesia Emas yang beradab, adil, makmur, dan sejahtera.

Dirgahayu Sumpah Pemuda! Teruslah Beragam, Bersatu, dan Berdaya untuk Indonesia Raya!

Byberagam

Merawat Kebudayaan Nusantara: Refleksi Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara di Hari Kebudayaan Nasional 2026

Oleh: Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara (FKN)

Setiap kali saya berdiri di bawah naungan panji-panji Kebhinekaan, menatap bentangan ribuan pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, dada saya selalu bergetar oleh rasa bangga yang tak terhingga. Hari ini, Sabtu, 17 Oktober 2026, bangsa kita kembali merayakan salah satu momen paling krusial dalam perjalanan peradabannya: Hari Kebudayaan Nasional.

Bagi kami di Forum Keberagaman Nusantara (FKN), tanggal 17 Oktober bukan sekadar tanggal di kalender peringatan tahunan. Hari ini adalah ruang jeda, sebuah cermin kebangsaan tempat kita berkaca dan bertanya pada diri sendiri: Sejauh mana kita telah menjaga warisan luhur para leluhur? Seberapa dalam kita telah meletakkan kebudayaan sebagai kompas moral bangsa?

Kebudayaan Adalah Jiwa dan Akar Bangsa

Kebudayaan bukanlah peninggalan masa lalu yang beku di dalam etalase kaca museum. Kebudayaan adalah entitas yang bernapas, bergerak, dan membentuk identitas setiap insan Indonesia. Kebudayaan hidup dalam ayunan langkah para penari di pedalaman, dalam lantunan kidung tradisional di pelosok desa, dalam kehangatan tutur kata antartetangga, hingga dalam keindahan ikatan kain tenun dan batik yang ditenun dengan benang-benang doa.

Di Forum Keberagaman Nusantara, kami memandang bahwa keberagaman budaya dengan ratusan bahasa daerah, tradisi adat, serta seni lokal bukanlah celah perbedaan yang memisahkan, melainkan fondasi kokoh yang menyatukan. Seperti irama gamelan yang terdiri dari benturan instrumen bernada beda, harmoni indah hanya tercipta ketika seluruh elemen itu berbunyi bersama dalam rasa saling menghargai.

Peringatan Hari Kebudayaan Nasional tahun ini membawa tema yang sangat mendalam: โ€œBudaya Hidup, Indonesia Berdaya.โ€ Pesan ini menegaskan kembali bahwa untuk menjadi bangsa yang berdaya saing global, kita tidak perlu menanggalkan jati diri lokal kita. Justru dari akar kebudayaan yang kuat itulah, pohon peradaban Indonesia akan tumbuh menjulang tinggi menembus zaman.

Merajut Benang Kebhinekaan di Tengah Era Modernisasi

Kita tidak dapat menutup mata bahwa gelombang modernisasi dan digitalisasi bergerak sangat cepat. Generasi muda kita saat ini tumbuh di tengah gempuran budaya global yang tanpa sekat. Namun, saya selalu optimis. Generasi muda Indonesia bukanlah generasi yang lupa pada akarnya.

Yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk menghadirkan kebudayaan dalam bahasa zaman mereka. Kebudayaan tidak boleh terasa asing atau kuno. Seni tradisional, cerita rakyat, hingga kearifan lokal harus mampu beradaptasi melalui media digital, karya kreatif, dan ruang-ruang inovasi baru.

Di sinilah kewajiban kita bersama pemerintah, tokoh masyarakat, budayawan, hingga organisasi kemasyarakatan seperti FKN untuk terus membuka jalan dan memberikan ruang bagi anak-anak muda. Kita ingin melihat pemuda-pemudi kita dengan bangga mengenakan busana Nusantara, fasih menuturkan bahasa daerahnya, serta mengabarkan keindahan tradisi Nusantara ke panggung dunia.

Harapan dan Ajak Kebangsaan Forum Keberagaman Nusantara

Sebagai Ketua Umum Forum Keberagaman Nusantara, pada momen berharga Hari Kebudayaan Nasional 2026 ini, saya ingin menyampaikan beberapa harapan besar bagi masa depan kebudayaan kita:

  1. Penguatan Kebudayaan sebagai Fondasi Pembangunan: Kita berharap pemerintah terus menempatkan kebudayaan tidak hanya sebagai sektor pendamping, tetapi sebagai pilar utama pembentuk karakter dan arah pembangunan nasional. Kebijakan publik yang berakar pada kearifan lokal akan selalu menciptakan tatanan masyarakat yang lebih adil, humanis, dan toleran.
  2. Perlindungan dan Pelestarian Hak-Hak Budaya Masyarakat Adat: Mari kita pastikan bahwa masyarakat adat dan para penjaga tradisi di seluruh pelosok Nusantara mendapatkan ruang hidup, perlindungan, serta penghormatan yang layak. Mereka adalah benteng terdepan yang menjaga kelestarian alam dan budaya Indonesia.
  3. Menjadikan Kebudayaan sebagai Alat Pemersatu Bangsa: Di tengah dinamika sosial dan politik, kebudayaan harus menjadi perajut kedamaian. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan silih asih adalah obat penawar bagi segala bentuk polarisasi.
  4. Sinergi Lintas Generasi dan Elemen Masyarakat: Pelestarian budaya bukanlah tugas segelintir budayawan saja, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Dari meja makan keluarga hingga panggung internasional, marilah kita senantiasa merayakan keberagaman ini.

Baca Juga : Forum Keberagaman Nusantara (FKN): Benteng Toleransi di Tengah Pluralisme

Mari Kita Jaga Warisan Ini Bersama

Negeri ini dirawat dengan keringat, darah, dan doa para pendahulu kita yang berdiri di atas keberagaman. Jangan pernah biarkan nyala api kebudayaan itu redup ditelan zaman.

Jadikan Hari Kebudayaan Nasional 17 Oktober 2026 ini sebagai momentum pengingat bahwa kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia terletak pada kaya dan luhurnya tradisi yang kita miliki. Mari kita rawat warisan ini, kita muliakan kearifannya, dan kita teruskan apinya kepada generasi mendatang.

Selamat Hari Kebudayaan Nasional 2026!

Melestarikan Warisan, Menyalakan Api Nusantara.

Salam keberagaman, Salam Nusantara!

Byberagam

Forum Keberagaman Nusantara (FKN): Benteng Toleransi di Tengah Pluralisme

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk dengan ribuan suku, ratusan bahasa daerah, serta ragam keyakinan yang hidup berdampingan. Di tengah hamparan identitas yang plural ini, merawat kerukunan bukanlah perkara instan. Dibutuhkan ruang dialog, kesadaran kolektif, dan gerakan nyata untuk menjaga keharmonisan tersebut. Di sinilah Forum Keberagaman Nusantara (FKN) hadir sebagai salah satu pilar strategis penjaga kebangsaan.

Mengapa Forum Keberagaman Nusantara Harus Hadir?

Karena keberagaman bukan sekadar statistik di atas kertas, bukan pula slogan pemanis pidato kenegaraan. Keberagaman adalah napas bangsa ini. Tanpa itu, Indonesia hanyalah kumpulan pulau-pulau sunyi yang terasing oleh ego masing-masing.

FKN hadir bukan untuk menyeragamkan warna pelangi, melainkan untuk memastikan setiap warna tetap bernyanyi pada nadanya yang merdu tanpa harus saling memadamkan. FKN berdiri untuk menjadi perisai bagi mereka yang tersisih, jembatan bagi mereka yang terisolasi, dan pengingat yang keras bahwa cinta tanah air diuji saat kita mampu merangkul mereka yang berbeda. Jika kita memilih bungkam, sejarah akan mencatat bahwa kita adalah generasi yang membiarkan rumah besar ini runtuh dari dalam.

Tonggak Sejarah dan Jajaran Kepengurusan FKN

Secara resmi dideklarasikan pada 11 Mei 2024, Forum Keberagaman Nusantara (FKN) lahir dari rahim kesadaran bersama sekitar 30 tokoh nasional, para sultan, raja Nusantara, serta perwakilan adat lintas suku dan agama. Langkah besar ini ditandai dengan deklarasi nasional yang kental akan nuansa kultural, termasuk di halaman Kadaton Kesultanan Ternate, Maluku Utara.

Arah strategis dan pergerakan FKN dikawal langsung oleh figur-figur panutan bangsa:

  • Ketua Dewan Pembina FKN Pusat: K.H. Maโ€™ruf Amin (Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13), yang memberikan bimbingan moral, pengawasan ideologis, serta arah strategis dalam merajut kerukunan umat beragama dan berbangsa.
  • Ketua Umum FKN: H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun, tokoh inisiator utama yang aktif menggerakkan konsolidasi kebangsaan dan kebudayaan lintas elemen masyarakat di berbagai penjuru nusantara.

Di bawah payung konstitusi Pancasila, UUD 1945, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, FKN hadir bukan sebagai organisasi seremonial semata, melainkan wadah intelektual dan kultural yang solid.

Perjuangan Sang Nakhoda: Menenun Benang Merah Lintas Adat dan Budaya

Di balik berdirinya gerakan ini, terdapat keteguhan kepemimpinan sang Ketua Umum, H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun. Sebelum mendedikasikan energinya secara penuh untuk FKN, ia memiliki rekam jejak pengabdian yang kuat di lingkaran strategis pemerintahan, termasuk pernah dipercaya sebagai Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia (K.H. Maโ€™ruf Amin) pada periode 2019โ€“2024.

Pengalaman panjang di jantung pemerintahan tersebut memperluas perspektifnya: bahwa kekuatan sejati bangsa ini terletak pada kebudayaan, tradisi lokal, serta kerukunan masyarakat di berbagai pelosok daerah. Perjuangan Tuanku Alamsyah dibuktikan dengan turun langsung ke akar rumput bersilaturahmi dengan para sultan, raja-raja Nusantara, dan masyarakat adat dari Sumatra hingga Kesultanan Ternate.

Bagi beliau, merawat keberagaman tidak cukup dilakukan lewat ruang seminar yang kaku di ibu kota, melainkan dengan mendengarkan langsung denyut keresahan masyarakat dan menghidupkan kearifan lokal.

Perjuangan Konkret FKN di Akar Rumput

Dalam praktiknya, perjuangan Forum Keberagaman Nusantara mewujud melalui kerja-kerja kultural yang konsisten untuk meredam potensi gesekan sosial di tengah masyarakat multikultural:

  • Edukasi Publik Berbasis Budaya: Mengangkat kembali nilai-nilai kearifan lokal nusantara yang terbukti sejak lama menjadi instrumen perdamaian antarsuku dan umat beragama.
  • Mediasi dan Resolusi Konflik: Menjadi penengah yang netral dan berempati tinggi dalam meredam potensi polarisasi identitas di tengah masyarakat.
  • Penguatan Literasi Kebangsaan: Mengkampanyekan pentingnya berpikir kritis dan bernarasi positif untuk melawan hoaks serta ujaran kebencian berbasis SARA di ruang digital.

Tujuan Utama Forum Keberagaman Nusantara

Di bawah arahan para pembina dan pimpinan pusat, FKN memiliki arah dan komitmen yang jelas bagi masa depan Indonesia. Secara garis besar, tujuan utama pergerakan FKN mencakup:

  1. Memperkokoh Persatuan Nasional: Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui penguatan rasa saling memiliki dan menghormati antarwarga negara menjelang satu abad Indonesia.
  2. Membangun Ruang Dialog Inklusif: Menyediakan wadah bagi kelompok minoritas maupun mayoritas untuk menyuarakan aspirasi dalam kerangka demokrasi yang sehat dan beradab.
  3. Melestarikan Khazanah Budaya Nusantara: Menjadikan kekayaan seni, tradisi, dan sejarah lokal sebagai perekat sosial yang menyatukan berbagai elemen masyarakat.
  4. Memberdayakan Generasi Muda: Mengedukasi generasi penerus (Gen Z, Milenial, hingga Generasi Alpha) agar memandang kebhinekaan sebagai modal utama menuju visi besar Indonesia Emas.

Baca Juga : Jurnal Sumatra Utara Part 1, Isfandiari MD-jurnalis FKN

Menyalakan Hati Nusantara Menuju Indonesia Raya

Forum Keberagaman Nusantara berdiri sebagai pengingat abadi bahwa Indonesia yang kokoh tidak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuannya merayakan perbedaan dengan jiwa yang lapang. Di tengah gempuran modernisasi, arus globalisasi digital, dan berbagai tantangan zaman yang kerap menguji daya tahan sosial kita, FKN hadir membawa lentera harapan. Melalui gagasan yang ringkas namun bernas, kerja-kerja kolaboratif di akar rumput, serta rasa empati yang mendalam seperti yang senantiasa digelorakan dengan penuh keteguhan oleh kepemimpinan H. Tuanku Alamsyah Arif Rahmansyah Marbun. FKN mengusung misi besar Menyalakan Hati Nusantara demi merawat masa depan bangsa dari ancaman perpecahan.

Api persatuan ini hanya akan terus menyala jika kita berani meruntuhkan dinding-dinding kecurigaan yang kerap dibangun oleh ego sektoral maupun polarisasi identitas. Seperti pesan moral yang selalu digaungkan:

โ€œMari kita gantikan ego dengan kasih sayang, dan curiga dengan saling percaya. Sebab, dari cinta yang tuluslah lahir persatuan yang sejati.โ€

Dengan memegang teguh tagline โ€œBeragam, Bersatu, Berdaya Untuk Indonesia Rayaโ€, Forum Keberagaman Nusantara tidak sekadar berhenti pada wacana di atas kertas. FKN terus melangkah, merangkul setiap elemen lintas suku, agama, dan adat istiadat, untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur nusantara tetap hidup, berdaulat secara kultural, dan relevan menjawab dinamika zaman. Organisasi ini bertekad membuktikan bahwa keberagaman bukanlah sebuah kelemahan yang memecah belah, melainkan kekuatan mahabesar yang menjadikan bangsa ini unik dan terhormat di mata dunia.

Sebab, pada akhirnya, merawat Indonesia bukanlah sekadar tanggung jawab moral pemerintah atau segelintir elite semata, melainkan panggilan suci bagi setiap warga negara. Dengan mengenal, memahami, dan mendukung gerakan serta figur-figur penggerak di dalam Forum Keberagaman Nusantara ini, kita turut mengambil peran nyata,memastikan bahwa warisan kebhinekaan, kedamaian, dan kehangatan rumah besar bernama Indonesia dapat terus dinikmati oleh anak cucu kita di masa depan dengan penuh rasa bangga, kepala tegak, dan kedamaian yang abadi.

Byberagam

LATAR BELAKANG FKN

Dalam rentang sejarahnya, Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang sangat beragam. Realita ini menunjukkan betapa pentingnya kita merawat keberagaman dalam perbedaan etnis, suku, agama, budaya, serta lintas generasi. Harmoni keberagaman ini menjadi tonggak penting merawat eksistensi suatu bangsa, agar terhindar dari ketegangan yang dapat menghambat kemajuan dalam mewujudkan cita-cita luhur para pendiri bangsa. Disisi lain, globalisasi, modernisasi juga membawa dampak yang luas bagi peradaban kita. Jika tidak diantisipasi dengan bijaksana akan menghasilkan sesuatu yang destruktif bagi kelangsungan hidup kita berbangsa dan bernegara. Namun jika diantisipasi dengan baik, globalisasi dan modernisasi akan berdampak sangat konstruktif di segala bidang baik ekonomi teknologi juga sosial budaya. Sejalan dengan perubahan global, Indonesia juga dihadapkan pada momentum bonus demografi yang memberikan peluang sekaligus resiko bagi masa depan bangsa. Dengan dominasi generasi muda sebagai penggerak utama masa depan Indonesia, dibutuhkan sinergi lintas generasi yang mampu mempertemukan semangat muda dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendahulu untuk memperkuat solidaritas, serta menyalakan jiwa nasionalisme yang adaptif terhadap perubahan zaman. Atas hal ini, Forum Keberagaman Nusantara hadir sebagai salah satu motor penggerak sinergitas segala golongan lintas generasi (Connecting Generations). Menyuburkan rasa kebersamaan dalam keragaman dan toleransi dengan tujuan mulia memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Tak hanya itu, Indonesia berikhtiar menjadi mercusuar dalam pergaulan internasional sesuai dengan nilai-nilai Pancasila seperti yang dicita-citakan Bung Karno dan founding fathers lainnya.